In the Science book exist in apparent motion. In the book History there is a statue. If we want to have knowledge. Happy and immovable reading.

Friday, December 20, 2013

Ini Dia, Lima Jalan Termahal di Dunia



RumahCom – Wealth-X, sebuah perusahaan intelijen internasional di bidang kekayaan baru-baru ini merilis laporan yang mengungkapkan jalan termahal di dunia. Bukan karena ongkos konstruksinya yang tinggi, jalan-jalan di dunia ini disebut mahal karena jutawan dunia beralamat di jalan tersebut.

Dari sepuluh nama jalan termahal di dunia seperti yang tercantum di laman wealthx.com, rata-rata harga properti di kawasan tersebut senilai USD78 juta, atau setara Rp900,868 miliar. Berikut lima jalan termahal di dunia:




5. Paterson Hill, Singapura
Paterson Hill di Singapura berada di posisi kelima. Kawasan yang dekat dengan pusat perbelanjaan ternama Orchard Road ini merupakan pusat butik dari desainer kenamaan dunia dan restoran bertaraf Michelin.

Harga tanah di kawasan ini mencapai USD42.500 (Rp488,6 juta) per meter persegi. Kaum jet set yang tercatat memilih Paterson Hill antara lain salah satu pendiri Facebook Eduardo Saverin,
dan Rachel Kum, Miss Singapura 2009.




4. Boulevard du General de Gaulle, Cap Ferrat, Perancis
Berlokasi di garis pantai Mediteranian, kawasan eksklusif di semenanjung Cap Ferrat ini juga didapuk sebagai kawasan non-urban termahal di dunia. Harga tanahnya mencapai USD79.000 (Rp908,23 juta) per meter persegi.

Pasangan Brad Pitt dan Angelina Jolie tercatat sebagai salah satu penghuni kawasan ini. Di masa hidupnya, Charlie Chaplin juga tercatat pernah mendiami kawasan ini.



3. Avenue Princess Grace, Monaco
Salah satu jalan di negara tempat balapan mobil F1 setiap Mei ini berada di posisi ketiga. Calon pencakar langit tertinggi dunia, Tour Odeon juga beralamat di Avenue Princess Grace ini.

Harga tanah di kawasan ini sekitar USD86.000 (Rp988,7 juta) per meter persegi. Beberapa pesohor yang tinggal di kawasan ini antara lain penyanyi sopran Andrea Bocelli, Roger Moore, dan pebalap F1 Lewis Hamilton.




2. Kensington Palace Garden, London
Di sinilah tempat tinggal calon raja Inggris, Pangeran George dan kedua orang tuanya, William dan Kate. Miliarder dunia asal Perancis, Rusia, India, dan Jepang juga tercatat tinggal di kawasan ini. Sebut saja Roman Abramovich dan Laksmi Mittal. Harga tanah di Kensington Palace ini terbilang cukup spektakuler, tercatat mencapai USD107.000 (Rp1,23 miliar) per meter persegi.




1. Pollock’s Path, The Peak, Hong Kong
Kawasan termahal di dunia terletak di atas pegunungan yang memamerkan pemandangan menakjubkan menuju skyline Hong Kong dan pelabuhan. Publik pun sempat dibuat ternganga di 2011, setelah sebuah apartemen di kawasan ini terjual di harga USD103 juta (Rp1,18 triliun).

Harga tanah di kawasan ini memang fantastis, berada di kisaran USD120.000 (Rp1,379 miliar) per meter persegi. Orang kaya yang tinggal di kawasan ini salah satunya aktor senior Stephen Chow.

8 Tips Memproteksi Rumah saat Musim Hujan



RumahCom – Musim hujan telah tiba dan BMKG memprediksi puncak curah hujan masih akan terjadi hingga Januari 2014 mendatang. Atap bocor, dinding rembes, atau banjir tentu merupakan hal yang paling ditakuti saat musim penghujan seperti saat ini.

Apakah Anda telah mempersiapkan rumah Anda untuk menghadapinya? Agar terhindar dari kejadian tersebut, ada delapan langkah yang dapat Anda lakukan:

Atap
Periksa atap rumah Anda dua kali setahun. Hal ini jauh lebih murah dibanding  memperbaiki rumah yang kebocoran.

Carilah retak di sepanjang bubungan atap, demikian pula talang bagian bawah jurai atap. Pastikan tak ada lubang atau karat pada talang—bila terbuat dari logam.

Saturday, December 14, 2013

Badai Monster Mengungkap Adanya Air di Saturnus



KOMPAS.com — Sekali setiap 30 tahun Bumi atau setara dengan satu tahun Saturnus, badai melanda belahan utara Saturnus. Terakhir, badai melanda planet itu pada tahun 2010, tumbuh menjadi badai monster yang mencapai lebar 15.000 km dan tampak oleh astronom amatir di Bumi sebagai titik putih.

Dengan bantuan data tentang badai tahun 2010 yang dimiliki oleh wahana antariksa Cassini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan peneliti University of Wisconsin, Madison, berhasil mengungkap komposisi atmosfer planet bercincin itu.

NASA dan Lawrence Sromovsky, peneliti itu, mengungkap bahwa seperti telah diprediksi dan ditemukan lewat penelitian sebelumnya, atmosfer Saturnus memiliki air dalam bentuk es. Selain itu, atmosfer planet gas itu juga terdiri atas es amonia dan molekul lain yang diduga hidrosulfida.

Dalam publikasi di edisi terbaru jurnal Icarus tertanggal 9 September 2013, peneliti mengungkapkan bahwa penelitian ini adalah yang pertama mampu menjumpai air di Saturnus dalam bentuk es, yang tak pernah bisa dijumpai sebelumnya.

Ilmuwan memercayai, atmosfer Saturnus terdiri atas beberapa lapisan, meliputi lapisan paling bawah yang terdiri atas awan air, lapisan awan hidrosulfida dan amonia di bagian tengah, awan amonia saja di bagian atas, serta molekul yang belum diketahui di lapisan paling atas.



Badai Saturnus sebenarnya bekerja seperti badai di Bumi. Namun demikian, skala badai di planet bercincin itu jauh lebih besar dan merusak. Secara vertikal, kecepatannya bisa mencapai 480 kilometer per jam.

"Badai mulai terbentuk dari level awan air dan kemudian berkembang menjadi seperti menara penghubung yang sangat besar, seperti badai di Bumi, tetapi 10-20 kali lebih tinggi dan mencakup lebih banyak area," kata Sromovsky.

Sromovsky dalam rilis di situs web University of Wisconsin, Madison, Selasa (3/9/2013), mengatakan bahwa badai itu menarik partikel ke atas, seperti gunung berapi yang membawa material dari kedalaman. Karena itulah, material dan komposisi atmosfer Saturnus bisa terungkap.

"Air semula berada di bawah ditarik ke atas oleh proses konveksi yang sangat kuat. Uap air lalu mengalami kondensasi seiring naik ke atas. Molekul ini lalu dibungkus oleh amonium hidrosulfida dan amonia yang cepat menguap seiring suhu yang semakin menurun saat ketinggian bertambah," katanya.

Komposisi atmosfer ini hanyalah salah satu yang berhasil diungkap dengan bantuan Cassini. Sebelumnya, wahana antariksa Cassini telah menyuguhkan banyak penemuan terkait cincin Saturnus. Selain itu, Cassini juga menghasilkan potret Bumi dilihat dari Planet Saturnus.