In the Science book exist in apparent motion. In the book History there is a statue. If we want to have knowledge. Happy and immovable reading.

Friday, December 20, 2013

8 Tips Memproteksi Rumah saat Musim Hujan



RumahCom – Musim hujan telah tiba dan BMKG memprediksi puncak curah hujan masih akan terjadi hingga Januari 2014 mendatang. Atap bocor, dinding rembes, atau banjir tentu merupakan hal yang paling ditakuti saat musim penghujan seperti saat ini.

Apakah Anda telah mempersiapkan rumah Anda untuk menghadapinya? Agar terhindar dari kejadian tersebut, ada delapan langkah yang dapat Anda lakukan:

Atap
Periksa atap rumah Anda dua kali setahun. Hal ini jauh lebih murah dibanding  memperbaiki rumah yang kebocoran.

Carilah retak di sepanjang bubungan atap, demikian pula talang bagian bawah jurai atap. Pastikan tak ada lubang atau karat pada talang—bila terbuat dari logam.

Saturday, December 14, 2013

Badai Monster Mengungkap Adanya Air di Saturnus



KOMPAS.com — Sekali setiap 30 tahun Bumi atau setara dengan satu tahun Saturnus, badai melanda belahan utara Saturnus. Terakhir, badai melanda planet itu pada tahun 2010, tumbuh menjadi badai monster yang mencapai lebar 15.000 km dan tampak oleh astronom amatir di Bumi sebagai titik putih.

Dengan bantuan data tentang badai tahun 2010 yang dimiliki oleh wahana antariksa Cassini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan peneliti University of Wisconsin, Madison, berhasil mengungkap komposisi atmosfer planet bercincin itu.

NASA dan Lawrence Sromovsky, peneliti itu, mengungkap bahwa seperti telah diprediksi dan ditemukan lewat penelitian sebelumnya, atmosfer Saturnus memiliki air dalam bentuk es. Selain itu, atmosfer planet gas itu juga terdiri atas es amonia dan molekul lain yang diduga hidrosulfida.

Dalam publikasi di edisi terbaru jurnal Icarus tertanggal 9 September 2013, peneliti mengungkapkan bahwa penelitian ini adalah yang pertama mampu menjumpai air di Saturnus dalam bentuk es, yang tak pernah bisa dijumpai sebelumnya.

Ilmuwan memercayai, atmosfer Saturnus terdiri atas beberapa lapisan, meliputi lapisan paling bawah yang terdiri atas awan air, lapisan awan hidrosulfida dan amonia di bagian tengah, awan amonia saja di bagian atas, serta molekul yang belum diketahui di lapisan paling atas.



Badai Saturnus sebenarnya bekerja seperti badai di Bumi. Namun demikian, skala badai di planet bercincin itu jauh lebih besar dan merusak. Secara vertikal, kecepatannya bisa mencapai 480 kilometer per jam.

"Badai mulai terbentuk dari level awan air dan kemudian berkembang menjadi seperti menara penghubung yang sangat besar, seperti badai di Bumi, tetapi 10-20 kali lebih tinggi dan mencakup lebih banyak area," kata Sromovsky.

Sromovsky dalam rilis di situs web University of Wisconsin, Madison, Selasa (3/9/2013), mengatakan bahwa badai itu menarik partikel ke atas, seperti gunung berapi yang membawa material dari kedalaman. Karena itulah, material dan komposisi atmosfer Saturnus bisa terungkap.

"Air semula berada di bawah ditarik ke atas oleh proses konveksi yang sangat kuat. Uap air lalu mengalami kondensasi seiring naik ke atas. Molekul ini lalu dibungkus oleh amonium hidrosulfida dan amonia yang cepat menguap seiring suhu yang semakin menurun saat ketinggian bertambah," katanya.

Komposisi atmosfer ini hanyalah salah satu yang berhasil diungkap dengan bantuan Cassini. Sebelumnya, wahana antariksa Cassini telah menyuguhkan banyak penemuan terkait cincin Saturnus. Selain itu, Cassini juga menghasilkan potret Bumi dilihat dari Planet Saturnus.

Brrrr! Inilah Tempat Terdingin di Muka Bumi



KOMPAS.com — Ilmuwan menemukan tempat terdingin di Bumi. Dari sisi tempat, temuan ini tidak mengejutkan sebab lokasi terdingin ada di Antartika. Namun, dari sisi suhu, temuan tetap memberi kejutan.

"Rekor suhunya puluhan derajat (dalam satuan Fahrenheit), lebih dingin dari apa yang pernah dilihat di Siberia, Alaska, ataupun Greenland," kata Ted Scambos, ilmuwan dari National Snow and Ice Data di Colorado, yang memimpin studi, seperti dikutp ABC News, Selasa (10/12/2013).

Tempat terdingin di Bumi itu berlokasi di dataran tinggi bagian timur Antartika. Suhunya mencapai -93 derajat celsius. Sebagai perbandingan, suhu di Indonesia rata-rata lebih dari 25 derajat celsius.

Suhu di tempat tersebut memecahkan rekor suhu terdingin selama 30 tahun, yakni sekitar -89,2 derajat celsius, yang diukur oleh stasiun pemantau cuaca Vostok. Lokasi tempat terdingin sebelumnya berada di dekat tempat terdingin saat ini.

Dengan suhu tersebut, karbon dioksida bisa membeku menjadi es kering. Sementara pada suhu yang sangat dingin itu, bahan bakar minyak bisa berubah wujud menjadi seperti gel rambut. Sangat sulit bagi manusia untuk bertahan di lingkungan itu dalam waktu lama.

Rekor tempat terdingin itu diumumkan dalam pertemuan American Geophysical Union di San Fransisco, Senin (9/12/2013). Meski baru diumumkan minggu ini, rekor itu sebenarnya menunjukkan hasil peantauan suhu pada 10 Agustus 2010.

Suhu dan tempat terdingin itu ditemukan lewat analisis data dari instrumen Advanced Very High Resolution radiometer (VHRR) milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan instrumen Terra dan Aqua pada satelit Landsat 8 milik NASA.

Dikutip National Geographic, Selasa, Garrett Campbell yang juga terlibat studi mengatakan bahwa suhu terendah di tempat terdingin di Bumi itu tercapai pada saat hari cerah. Pada cuaca yang berawan, biasanya suhu cenderung lebih tinggi.

Biasanya, tempat terdingin ada di wilayah yang lebih rendah. Hal ini karena massa jenis udara yang lebih dingin lebih tinggi dari udara yang hangat. Udara yang lebih dingin tenggelam seperti batu yang dimasukkan dalam air.

Yang unik, tempat terdingin kali ini ada di dataran tinggi. Menurut Campbell, hal ini diakibatkan oleh adanya tekanan yang mendorong udara yang dingin mencapai wilayah yang lebih rendah sehingga udara itu tetap berada di dataran tinggi.

Hantaman Asteroid Mungkin Jadi Sebab Adanya Alien



KOMPAS.com — Asteroid diduga pernah memusnahkan kehidupan di Bumi pada masa dinosaurus. Namun, tak diduga banyak kalangan, ternyata hantaman asteroid itu mungkin juga menyebarkan kehidupan ke benda langit lain di Tata Surya, alias menjadi asal muasal adanya kehidupan di luar angkasa, "alien", walau yang masih mikro.

Inilah yang terungkap dalam publikasi riset Rachel Worth dan timnya dari Pennsylvania State University dalam jurnal Astrobiology.

"Kami menemukan bahwa batuan yang mungkin membawa kehidupan mengirimkannya, baik dari Bumi maupun Mars, ke semua planet batuan di Tata Surya dan ke sistem Jupiter," kata Rachel seperti dikutip BBC, Rabu (11/12/2013).

Gagasan penyebaran kehidupan dari Bumi ke benda langit lain adalah modifikasi dari panspermia, yang dalam hal ini kehidupan berasal dari luar angkasa.

Panspermia telah banyak menarik perhatian astronom. Namun, kali ini, Worth berhasil menunjukkan dengan simulasi bahwa sangat mungkin bila asteroid yang menghantam Bumi kemudian menyebarkan material yang membawa kehidupan dan mendarat ke benda langit lain.

Dalam studi, Worth mengestimasi jumlah batu yang berukuran lebih dari 3 meter. Batuan yang dimaksud merupakan komponen asteroid yang menghantam Bumi dan terlempar lagi ke angkasa.

Ukuran 3 meter dipilih karena, menurut Worth, itu merupakan ukuran minimum batuan bisa melindungi mikroorganisme dari radiasi sinar Matahari dalam perjalanannya di ruang angkasa yang bisa mencapai 10 juta tahun.

Studi menunjukkan adanya tiga skenario dari batuan yang disebarkan ke antariksa sebagai hasil tumbukan.

Pertama, batuan itu berada di orbit dekat Bumi dan akhirnya jatuh lagi. Kedua, batuan ditarik oleh Matahari atau bergerak cepat hingga akhirnya melayang bebas, bahkan keluar dari Tata Surya. Ketiga, batuan melayang dan mendarat di benda langit lain.

Meski sangat kecil kemungkinannya, simulasi menunjukkan bahwa sangat mungkin batuan hasil tumbukan sampai ke benda langit lain.

Sekitar 6 batuan pernah mencapai bulan Jupiter, Europa. Meski air di Europa ditutupi es, sangat mungkin materi kehidupan yang terbawa menyelam ke dalamnya. Sementara itu, sebagian besar batuan, sejumlah 360.000, diprediksi telah sampai ke Mars.

Hantaman asteroid yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, yang meninggalkan jejak berupa kawah Chicxulub di Meksiko, adalah salah satu yang diduga menyebarkan kehidupan.

Menurut perkiraan, sebanyak 70 miliar kilogram batu tersebar ke antariksa, dengan 20.000 kg di antaranya kemungkinan mencapai Europa. Peluang batuan yang sampai ke Europa untuk memantik kehidupan adalah 50 banding 50.

Sangat mungkin juga bahwa batuan itu sampai ke Mars. "Saya akan terkejut kalau kehidupan yang dibawa tidak sampai ke Mars," ucap Worth.

Bukan cuma pengiriman kehidupan dari Bumi ke Mars yang mungkin. Skenario sebaliknya juga bisa terjadi. Sekitar 3,5 juta tahun lalu, Mars hangat dan basah. Bila terbukti ada kehidupan saat itu, sangat mungkin kehidupan di Mars dikirim ke Bumi lewat hantaman asteroid.

Studi ini memberi pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana manusia saat ini harus mencari kehidupan ke tempat selain Bumi.

"Setiap misi untuk mencari kehidupan di Titan (bulan Saturnus) atau bulan Jupiter harus mempertimbangkan apakah material biologis itu memang punya asal usul berbeda atau masih cabang dari pohon kehidupan di Bumi," kata Worth.

Jupiter dan Saturnus Mengalami Hujan Berlian



KOMPAS.com — Mona Delitsky dari California Speciality Engineering di Flintridge dan Kebin Baines dari University of Wisconsin-Madison berdasarkan hasil riset mengungkapkan bahwa Jupiter dan Saturnus mengalami hujan berlian.

Keduanya memaparkan hasil penelitiannya di pertemuan divisi Ilmu Keplanetan pada American Astronomical Society yang berlangsung di Denver, Colorado, Senin (8/10/2013) lalu.

Menurut dua peneliti itu, seperti diberitakan Nature, Rabu (9/20/2013), petir merombak metana yang terdapat di atmosfer Saturnus dan Jupiter, kemudian membebaskan atom karbon penyusunnya.

Atom karbon yang dibebaskan kemudian berikatan satu sama lain, membentuk jelaga. Ketika semakin turun ke bawah lapisan atmosfer, karena suhu dan tekanan yang lebi tinggi, jelaga berubah menjadi grafit dan selanjutnya menjadi berlian.

Semakin turun, suhu di Jupiter dan Saturnus bisa mencapai 8.000 derajat celsius. Berlian yang semula padat bisa berubah menjadi cair, menjelma sebagai hujan berlian.

Baine mengatakan, di Saturnus, berlian bisa terbentuk pada kedalaman atmosfer 6.000 hingga 30.000. Menurutnya, Saturnus bisa menghasilkan 10 juta ton berlian dengan sebagian besar ada dalam bentuk batuan yang ukurannya tak lebih dari satu milimeter.

"Kalau Anda punya robot di sana, robot itu cukup duduk dan akan mengoleksi berlian yang berjatuhan," kata Baines.

Dalam pandangan dua Baines dan Delitsky, pada tahun 2049, manusia bisa mengoleksi berlian di Saturnus dan menggunakannya untuk membuat wahana superkuat guna mengambil helium 3 untuk bahan bakar.

Menanggapi penelitian Baines dan Delitsky, David Stevenson dari California Institute of Technology mengatakan bahwa dirinya meragukan riset itu.

Menurutnya, metana di Jupiter dan Saturnus rendah, hanya 0,2 dan 0,5 persen. Jadi, seperti gula dan garam dalam air, bila jelaga terbentuk, maka hanya akan larut dalam atmosfer dua planet yang kaya akan gas-gas lain itu.

Sementara, Luca Ghiringhelli, menuturkan bahwa terlalu prematur untuk mengatakan bahwa berlian bisa terbentuk di Jupiter dan Saturnus. Sebabnya, metana di dua planet itu tak sebanyak di Uranus dan Neptunus.