In the Science book exist in apparent motion. In the book History there is a statue. If we want to have knowledge. Happy and immovable reading.

Saturday, December 14, 2013

Brrrr! Inilah Tempat Terdingin di Muka Bumi



KOMPAS.com — Ilmuwan menemukan tempat terdingin di Bumi. Dari sisi tempat, temuan ini tidak mengejutkan sebab lokasi terdingin ada di Antartika. Namun, dari sisi suhu, temuan tetap memberi kejutan.

"Rekor suhunya puluhan derajat (dalam satuan Fahrenheit), lebih dingin dari apa yang pernah dilihat di Siberia, Alaska, ataupun Greenland," kata Ted Scambos, ilmuwan dari National Snow and Ice Data di Colorado, yang memimpin studi, seperti dikutp ABC News, Selasa (10/12/2013).

Tempat terdingin di Bumi itu berlokasi di dataran tinggi bagian timur Antartika. Suhunya mencapai -93 derajat celsius. Sebagai perbandingan, suhu di Indonesia rata-rata lebih dari 25 derajat celsius.

Suhu di tempat tersebut memecahkan rekor suhu terdingin selama 30 tahun, yakni sekitar -89,2 derajat celsius, yang diukur oleh stasiun pemantau cuaca Vostok. Lokasi tempat terdingin sebelumnya berada di dekat tempat terdingin saat ini.

Dengan suhu tersebut, karbon dioksida bisa membeku menjadi es kering. Sementara pada suhu yang sangat dingin itu, bahan bakar minyak bisa berubah wujud menjadi seperti gel rambut. Sangat sulit bagi manusia untuk bertahan di lingkungan itu dalam waktu lama.

Rekor tempat terdingin itu diumumkan dalam pertemuan American Geophysical Union di San Fransisco, Senin (9/12/2013). Meski baru diumumkan minggu ini, rekor itu sebenarnya menunjukkan hasil peantauan suhu pada 10 Agustus 2010.

Suhu dan tempat terdingin itu ditemukan lewat analisis data dari instrumen Advanced Very High Resolution radiometer (VHRR) milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan instrumen Terra dan Aqua pada satelit Landsat 8 milik NASA.

Dikutip National Geographic, Selasa, Garrett Campbell yang juga terlibat studi mengatakan bahwa suhu terendah di tempat terdingin di Bumi itu tercapai pada saat hari cerah. Pada cuaca yang berawan, biasanya suhu cenderung lebih tinggi.

Biasanya, tempat terdingin ada di wilayah yang lebih rendah. Hal ini karena massa jenis udara yang lebih dingin lebih tinggi dari udara yang hangat. Udara yang lebih dingin tenggelam seperti batu yang dimasukkan dalam air.

Yang unik, tempat terdingin kali ini ada di dataran tinggi. Menurut Campbell, hal ini diakibatkan oleh adanya tekanan yang mendorong udara yang dingin mencapai wilayah yang lebih rendah sehingga udara itu tetap berada di dataran tinggi.

Hantaman Asteroid Mungkin Jadi Sebab Adanya Alien



KOMPAS.com — Asteroid diduga pernah memusnahkan kehidupan di Bumi pada masa dinosaurus. Namun, tak diduga banyak kalangan, ternyata hantaman asteroid itu mungkin juga menyebarkan kehidupan ke benda langit lain di Tata Surya, alias menjadi asal muasal adanya kehidupan di luar angkasa, "alien", walau yang masih mikro.

Inilah yang terungkap dalam publikasi riset Rachel Worth dan timnya dari Pennsylvania State University dalam jurnal Astrobiology.

"Kami menemukan bahwa batuan yang mungkin membawa kehidupan mengirimkannya, baik dari Bumi maupun Mars, ke semua planet batuan di Tata Surya dan ke sistem Jupiter," kata Rachel seperti dikutip BBC, Rabu (11/12/2013).

Gagasan penyebaran kehidupan dari Bumi ke benda langit lain adalah modifikasi dari panspermia, yang dalam hal ini kehidupan berasal dari luar angkasa.

Panspermia telah banyak menarik perhatian astronom. Namun, kali ini, Worth berhasil menunjukkan dengan simulasi bahwa sangat mungkin bila asteroid yang menghantam Bumi kemudian menyebarkan material yang membawa kehidupan dan mendarat ke benda langit lain.

Dalam studi, Worth mengestimasi jumlah batu yang berukuran lebih dari 3 meter. Batuan yang dimaksud merupakan komponen asteroid yang menghantam Bumi dan terlempar lagi ke angkasa.

Ukuran 3 meter dipilih karena, menurut Worth, itu merupakan ukuran minimum batuan bisa melindungi mikroorganisme dari radiasi sinar Matahari dalam perjalanannya di ruang angkasa yang bisa mencapai 10 juta tahun.

Studi menunjukkan adanya tiga skenario dari batuan yang disebarkan ke antariksa sebagai hasil tumbukan.

Pertama, batuan itu berada di orbit dekat Bumi dan akhirnya jatuh lagi. Kedua, batuan ditarik oleh Matahari atau bergerak cepat hingga akhirnya melayang bebas, bahkan keluar dari Tata Surya. Ketiga, batuan melayang dan mendarat di benda langit lain.

Meski sangat kecil kemungkinannya, simulasi menunjukkan bahwa sangat mungkin batuan hasil tumbukan sampai ke benda langit lain.

Sekitar 6 batuan pernah mencapai bulan Jupiter, Europa. Meski air di Europa ditutupi es, sangat mungkin materi kehidupan yang terbawa menyelam ke dalamnya. Sementara itu, sebagian besar batuan, sejumlah 360.000, diprediksi telah sampai ke Mars.

Hantaman asteroid yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu, yang meninggalkan jejak berupa kawah Chicxulub di Meksiko, adalah salah satu yang diduga menyebarkan kehidupan.

Menurut perkiraan, sebanyak 70 miliar kilogram batu tersebar ke antariksa, dengan 20.000 kg di antaranya kemungkinan mencapai Europa. Peluang batuan yang sampai ke Europa untuk memantik kehidupan adalah 50 banding 50.

Sangat mungkin juga bahwa batuan itu sampai ke Mars. "Saya akan terkejut kalau kehidupan yang dibawa tidak sampai ke Mars," ucap Worth.

Bukan cuma pengiriman kehidupan dari Bumi ke Mars yang mungkin. Skenario sebaliknya juga bisa terjadi. Sekitar 3,5 juta tahun lalu, Mars hangat dan basah. Bila terbukti ada kehidupan saat itu, sangat mungkin kehidupan di Mars dikirim ke Bumi lewat hantaman asteroid.

Studi ini memberi pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana manusia saat ini harus mencari kehidupan ke tempat selain Bumi.

"Setiap misi untuk mencari kehidupan di Titan (bulan Saturnus) atau bulan Jupiter harus mempertimbangkan apakah material biologis itu memang punya asal usul berbeda atau masih cabang dari pohon kehidupan di Bumi," kata Worth.

Jupiter dan Saturnus Mengalami Hujan Berlian



KOMPAS.com — Mona Delitsky dari California Speciality Engineering di Flintridge dan Kebin Baines dari University of Wisconsin-Madison berdasarkan hasil riset mengungkapkan bahwa Jupiter dan Saturnus mengalami hujan berlian.

Keduanya memaparkan hasil penelitiannya di pertemuan divisi Ilmu Keplanetan pada American Astronomical Society yang berlangsung di Denver, Colorado, Senin (8/10/2013) lalu.

Menurut dua peneliti itu, seperti diberitakan Nature, Rabu (9/20/2013), petir merombak metana yang terdapat di atmosfer Saturnus dan Jupiter, kemudian membebaskan atom karbon penyusunnya.

Atom karbon yang dibebaskan kemudian berikatan satu sama lain, membentuk jelaga. Ketika semakin turun ke bawah lapisan atmosfer, karena suhu dan tekanan yang lebi tinggi, jelaga berubah menjadi grafit dan selanjutnya menjadi berlian.

Semakin turun, suhu di Jupiter dan Saturnus bisa mencapai 8.000 derajat celsius. Berlian yang semula padat bisa berubah menjadi cair, menjelma sebagai hujan berlian.

Baine mengatakan, di Saturnus, berlian bisa terbentuk pada kedalaman atmosfer 6.000 hingga 30.000. Menurutnya, Saturnus bisa menghasilkan 10 juta ton berlian dengan sebagian besar ada dalam bentuk batuan yang ukurannya tak lebih dari satu milimeter.

"Kalau Anda punya robot di sana, robot itu cukup duduk dan akan mengoleksi berlian yang berjatuhan," kata Baines.

Dalam pandangan dua Baines dan Delitsky, pada tahun 2049, manusia bisa mengoleksi berlian di Saturnus dan menggunakannya untuk membuat wahana superkuat guna mengambil helium 3 untuk bahan bakar.

Menanggapi penelitian Baines dan Delitsky, David Stevenson dari California Institute of Technology mengatakan bahwa dirinya meragukan riset itu.

Menurutnya, metana di Jupiter dan Saturnus rendah, hanya 0,2 dan 0,5 persen. Jadi, seperti gula dan garam dalam air, bila jelaga terbentuk, maka hanya akan larut dalam atmosfer dua planet yang kaya akan gas-gas lain itu.

Sementara, Luca Ghiringhelli, menuturkan bahwa terlalu prematur untuk mengatakan bahwa berlian bisa terbentuk di Jupiter dan Saturnus. Sebabnya, metana di dua planet itu tak sebanyak di Uranus dan Neptunus.

Obyek Misterius Ditemukan di Cincin Saturnus



KOMPAS.com — Sebuah obyek misterius ditemukan di cincin planet Saturnus. Sampai saat ini, astronom belum menyimpulkan jenis obyek tersebut.

Obyek yang berada di cincin A Saturnus itu pertama kali teramati kamera wahana antariksa Cassini pada 15 April 2013. Astronom Carl Murray dari Queen Mary University di London serta anggota dari tim misi Cassini kemudian mengamati beberapa hari berikutnya.

Diberitakan EarthSky, Rabu (11/12/2013), dalam pertemuan American Geophysical Union di San Francisco, Senin (9/12/2013), Murray mengatakan bahwa ia tak pernah melihat ini sebelumnya.

Murray menamakan obyek itu Peggy. Nama tersebut diambil karena saat pertama pengamatan obyek misterius itu, 19 April 2013, bertepatan dengan ulang tahun ke-80 ibu mertuanya. Nama Peggy sekaligus dipakai untuk menghormatinya.

Peggy hanya berukuran 1 km. Dengan demikian, obyek itu tak bisa dikatakan bulan atau moonlet. Untuk menyatakan suatu obyek adalah sebuah bulan, butuh ukuran minimal 10 kali lipat dari Peggy.

Belum ada yang mengetahui apa Peggy sebenarnya. Ada kemungkinan bahwa Peggy merupakan akumulasi dari material cincin. Namun, bisa juga Peggy merupakan bulan yang baru mulai terbentuk. Jika ini benar, maka akan sangat menarik bagi astronom.

Bulan Jupiter Ketahuan "Menyemburkan" Air



Europa ketahuan menyemburkan uap air mencapai ketinggian lebih dari Everest. | Southwest Research Institute

KOMPAS.com - Bulan Jupiter yang telah lama diduga berpotensi mendukung kehidupan, Europa, ketahuan "menyemburkan" air hingga ketinggian yang lemebihi Everest. Teleskop antariksa Hubble milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menangkapnya.

Dalam publikasi di jurnal Science, ilmuwan menyatakan bahwa citra Hubble menunjukkan adanya surplus hidrogen dan oksigen di belahan Bumi selatan Europa. Bila terkonfirmasi bahwa bahan kimia itu adalah air, maka ada harapan besar lautan di underground Europa bisa diakses.

"Keberadaan air telah memicu ilmuwan untuk berspekulasi bahwa Europa yang kita kenal hari ini menyimpan kehidupan," kata James Green, pimpinan studi ilmu keplanetan NASA, seperti dikutip BBC, Kamis (12/12/2013).

"Uap yang disemburkan menarik perhatian bila memang ada di sana, uap itu membawa molekul dari lautan di Europa. Mungkin ada lebih banyak material organik yang ada di permukaan Europa," imbuh Green.

Ilmuwan menemukan adanya uap air pada citra Europa yang diambil teleskop Hubble pada November dan Desember 2013, serta pada tahun 1999. Uap air yang dimaksud terdapat berupa unsur hidrogen dan oksigen.

"Itu konsisten dengan dua semburan uap air setinggi 200 km," ungkap Lorenz Roth dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas. Setiap detik, sekitar 7 ton material disemburkan ke atmosfer Eoropa.

Kurt Retherford yang juga dari Southwest Research Institute di San Antonio mengatakan bahwa jumlah semburan itu mengagumkan. "Itu bergerak dengan kecepatan 700 meter per detik. Semua gas itu keluar, hampir semuanya kembali lagi, tidak lepas ke antariksa," katanya.

Semburan uap air itu tampaknya bersifat sementara, terjadi selama kurang lebih tujuh jam sekali waktu. Puncaknya terjadi ketika Europa mencapai jarak paling jauh dengan Jupiter, serta sebaliknya.

Karena fakta tersebut, ilmuwan menduga bahwa semburan uap air itu mungkin dipengaruhi oleh gravitasi Jupiter. Gravitasi mampu membuat es di permukaan Europa retak, memicu semburan uap air.

Hasil penelitian tentang Europa ini dipresentasikan di pertemuan American Geophysical Union yang berlangsung di San Fransisco, Kamis. Meski ada fakta baru terkuak, ternyata masih banyak pertanyaan yang tersisa.

"Berapa tebal es di Europa? Apakah ada danau atau kolam di lapisan es itu? Apakah retakan es cukup dalam? Apakah cukup dalam hingga menyentuh lapisan air cair di bawahnya?" demikian dinyatakan Retherford.

NASA sebenarnya merencanakan misi penjelajahan ke Europa lewat Europa Clipper. Namun, karena keterbatasan dana, misi itu sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Dunia mungkin harus bergantung pada misi penjelajahan Eropa, misi Juice.

Juice akan diluncurkan pada tahun 2022. Satelit itu akan mendekati Europa. Bila beruntung, misi bisa mengambil sampel uap dan menelitinya. Pengambilan sampel belum pasti bisa dilakukan sebab Juice akan mendekat di wilayah ekuator Europa, sementara semburan ada di belahan selatan.