In the Science book exist in apparent motion. In the book History there is a statue. If we want to have knowledge. Happy and immovable reading.

Saturday, December 14, 2013

Jupiter dan Saturnus Mengalami Hujan Berlian



KOMPAS.com — Mona Delitsky dari California Speciality Engineering di Flintridge dan Kebin Baines dari University of Wisconsin-Madison berdasarkan hasil riset mengungkapkan bahwa Jupiter dan Saturnus mengalami hujan berlian.

Keduanya memaparkan hasil penelitiannya di pertemuan divisi Ilmu Keplanetan pada American Astronomical Society yang berlangsung di Denver, Colorado, Senin (8/10/2013) lalu.

Menurut dua peneliti itu, seperti diberitakan Nature, Rabu (9/20/2013), petir merombak metana yang terdapat di atmosfer Saturnus dan Jupiter, kemudian membebaskan atom karbon penyusunnya.

Atom karbon yang dibebaskan kemudian berikatan satu sama lain, membentuk jelaga. Ketika semakin turun ke bawah lapisan atmosfer, karena suhu dan tekanan yang lebi tinggi, jelaga berubah menjadi grafit dan selanjutnya menjadi berlian.

Semakin turun, suhu di Jupiter dan Saturnus bisa mencapai 8.000 derajat celsius. Berlian yang semula padat bisa berubah menjadi cair, menjelma sebagai hujan berlian.

Baine mengatakan, di Saturnus, berlian bisa terbentuk pada kedalaman atmosfer 6.000 hingga 30.000. Menurutnya, Saturnus bisa menghasilkan 10 juta ton berlian dengan sebagian besar ada dalam bentuk batuan yang ukurannya tak lebih dari satu milimeter.

"Kalau Anda punya robot di sana, robot itu cukup duduk dan akan mengoleksi berlian yang berjatuhan," kata Baines.

Dalam pandangan dua Baines dan Delitsky, pada tahun 2049, manusia bisa mengoleksi berlian di Saturnus dan menggunakannya untuk membuat wahana superkuat guna mengambil helium 3 untuk bahan bakar.

Menanggapi penelitian Baines dan Delitsky, David Stevenson dari California Institute of Technology mengatakan bahwa dirinya meragukan riset itu.

Menurutnya, metana di Jupiter dan Saturnus rendah, hanya 0,2 dan 0,5 persen. Jadi, seperti gula dan garam dalam air, bila jelaga terbentuk, maka hanya akan larut dalam atmosfer dua planet yang kaya akan gas-gas lain itu.

Sementara, Luca Ghiringhelli, menuturkan bahwa terlalu prematur untuk mengatakan bahwa berlian bisa terbentuk di Jupiter dan Saturnus. Sebabnya, metana di dua planet itu tak sebanyak di Uranus dan Neptunus.

Obyek Misterius Ditemukan di Cincin Saturnus



KOMPAS.com — Sebuah obyek misterius ditemukan di cincin planet Saturnus. Sampai saat ini, astronom belum menyimpulkan jenis obyek tersebut.

Obyek yang berada di cincin A Saturnus itu pertama kali teramati kamera wahana antariksa Cassini pada 15 April 2013. Astronom Carl Murray dari Queen Mary University di London serta anggota dari tim misi Cassini kemudian mengamati beberapa hari berikutnya.

Diberitakan EarthSky, Rabu (11/12/2013), dalam pertemuan American Geophysical Union di San Francisco, Senin (9/12/2013), Murray mengatakan bahwa ia tak pernah melihat ini sebelumnya.

Murray menamakan obyek itu Peggy. Nama tersebut diambil karena saat pertama pengamatan obyek misterius itu, 19 April 2013, bertepatan dengan ulang tahun ke-80 ibu mertuanya. Nama Peggy sekaligus dipakai untuk menghormatinya.

Peggy hanya berukuran 1 km. Dengan demikian, obyek itu tak bisa dikatakan bulan atau moonlet. Untuk menyatakan suatu obyek adalah sebuah bulan, butuh ukuran minimal 10 kali lipat dari Peggy.

Belum ada yang mengetahui apa Peggy sebenarnya. Ada kemungkinan bahwa Peggy merupakan akumulasi dari material cincin. Namun, bisa juga Peggy merupakan bulan yang baru mulai terbentuk. Jika ini benar, maka akan sangat menarik bagi astronom.

Bulan Jupiter Ketahuan "Menyemburkan" Air



Europa ketahuan menyemburkan uap air mencapai ketinggian lebih dari Everest. | Southwest Research Institute

KOMPAS.com - Bulan Jupiter yang telah lama diduga berpotensi mendukung kehidupan, Europa, ketahuan "menyemburkan" air hingga ketinggian yang lemebihi Everest. Teleskop antariksa Hubble milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menangkapnya.

Dalam publikasi di jurnal Science, ilmuwan menyatakan bahwa citra Hubble menunjukkan adanya surplus hidrogen dan oksigen di belahan Bumi selatan Europa. Bila terkonfirmasi bahwa bahan kimia itu adalah air, maka ada harapan besar lautan di underground Europa bisa diakses.

"Keberadaan air telah memicu ilmuwan untuk berspekulasi bahwa Europa yang kita kenal hari ini menyimpan kehidupan," kata James Green, pimpinan studi ilmu keplanetan NASA, seperti dikutip BBC, Kamis (12/12/2013).

"Uap yang disemburkan menarik perhatian bila memang ada di sana, uap itu membawa molekul dari lautan di Europa. Mungkin ada lebih banyak material organik yang ada di permukaan Europa," imbuh Green.

Ilmuwan menemukan adanya uap air pada citra Europa yang diambil teleskop Hubble pada November dan Desember 2013, serta pada tahun 1999. Uap air yang dimaksud terdapat berupa unsur hidrogen dan oksigen.

"Itu konsisten dengan dua semburan uap air setinggi 200 km," ungkap Lorenz Roth dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas. Setiap detik, sekitar 7 ton material disemburkan ke atmosfer Eoropa.

Kurt Retherford yang juga dari Southwest Research Institute di San Antonio mengatakan bahwa jumlah semburan itu mengagumkan. "Itu bergerak dengan kecepatan 700 meter per detik. Semua gas itu keluar, hampir semuanya kembali lagi, tidak lepas ke antariksa," katanya.

Semburan uap air itu tampaknya bersifat sementara, terjadi selama kurang lebih tujuh jam sekali waktu. Puncaknya terjadi ketika Europa mencapai jarak paling jauh dengan Jupiter, serta sebaliknya.

Karena fakta tersebut, ilmuwan menduga bahwa semburan uap air itu mungkin dipengaruhi oleh gravitasi Jupiter. Gravitasi mampu membuat es di permukaan Europa retak, memicu semburan uap air.

Hasil penelitian tentang Europa ini dipresentasikan di pertemuan American Geophysical Union yang berlangsung di San Fransisco, Kamis. Meski ada fakta baru terkuak, ternyata masih banyak pertanyaan yang tersisa.

"Berapa tebal es di Europa? Apakah ada danau atau kolam di lapisan es itu? Apakah retakan es cukup dalam? Apakah cukup dalam hingga menyentuh lapisan air cair di bawahnya?" demikian dinyatakan Retherford.

NASA sebenarnya merencanakan misi penjelajahan ke Europa lewat Europa Clipper. Namun, karena keterbatasan dana, misi itu sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Dunia mungkin harus bergantung pada misi penjelajahan Eropa, misi Juice.

Juice akan diluncurkan pada tahun 2022. Satelit itu akan mendekati Europa. Bila beruntung, misi bisa mengambil sampel uap dan menelitinya. Pengambilan sampel belum pasti bisa dilakukan sebab Juice akan mendekat di wilayah ekuator Europa, sementara semburan ada di belahan selatan.

Sisa-sisa Monster Laut Berusia 130 Juta Tahun Ditemukan



KOMPAS.com — Paleontolog asal Kolombia menemukan fosil hewan laut raksasa yang hidup di Bumi miliaran tahun lalu.

Fosil monster itu ditemukan ketika paleontolog melakukan ekskavasi di Boyaca, wilayah di Kolombia, selama periode Cretaeous (144 - 60 juta tahun lalu) dibanjiri oleh air.

Dinosaurus yang ditemukan merupakan golongan Plesiosaurus, reptilia raksasa yang hidup di lautan belahan selatan Bumi, saat Bumi jauh lebih hangat dari saat ini.

Maria Paramo, paleontolog yang menemukan fosil ini, mengatakan, "Hewan ini hidup sekitar 130 juta tahun lalu. Saat itu, hampir setengah Kolombia dibanjiri air lautan yang pada bagian barat bertahan hingga akhir masa Cretaceous."

Diberitakan International Business Times, Senin (9/12/2013), Plesiosaurus yang ditemukan berukuran hampir 8 meter. Fosil yang sama pernah ditemukan di Australia, Amerika Utara, Antartika, dan Eropa.

Plesiosaurus adalah predator lautan yang memakan ikan. Hewan ini bisa tumbuh hingga panjang 15 meter, memiliki tubuh yang lebah dan ekor kecil. Organ geraknya berevolusi sehingga memiliki empat sirip yang didayai oleh otot yang kuat.

Kelompok dinosaurus ini mulai eksis dari 204 juta tahun lalu, tetapi kemudian punah bersama dinosaurus lain 66 juta tahun lalu.

Plesiosaurus merupakan jenis dinosaurus pertama yang ditemukan oleh ilmuwan. Sejak abad 19, ilmuwan telah mengoleksi lebih dari 100 spesimen golongan ini.

Editor : Yunanto Wiji Utomo

Mengenal Tradisi Dekorasi Pohon Natal



Kompas.com — Perayaan Natal tak lengkap rasanya tanpa memasang pohon cemara sebagai dekorasi Natal. Kita dengan mudah menjumpai pohon-pohon Natal ini dari yang berukuran kecil untuk diletakkan di meja, sampai yang berukuran raksasa dan dipajang di alun-alun kota.

Meski membeli pohon Natal plastik dan juga berbagai pernak-perniknya sudah menjadi bagian dari penyambutan Natal, tetapi tak banyak orang yang tahu sejarah pohon Natal ini.

Tradisi memasang pohon Natal sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Pohon cemara yang tetap hijau di musim salju dianggap sebagai simbol kehidupan.

Dalam situs christianitytoday.com disebutkan, orang-orang Roma menghias rumah mereka dengan cemara menjelang Tahun Baru, sementara orang Eropa Utara kuno memotong pohon cemara dan meletakkannya di dalam rumah selama musim dingin.

Cerita lain menyebutkan, ketika Yesus lahir di tengah musim dingin, setiap pohon yang biasanya rontok daunnya mendadak bersemi dan menghasilkan pucuk-pucuk hijau.

Para misionaris Kristen yang menyebarkan agama ini ke Jerman dan sekitarnya juga melakukan pendekatan dengan budaya setempat, salah satunya adalah memasang pohon cemara di musim dingin.

Pohon cemara yang tetap hijau dianggap melambangkan hidup kekal, sementara bentuknya yang menjulang ke atas dinilai cocok untuk menggambarkan kehidupan rohani yang mengarah kepada Tuhan.

Bagi penganut Kristen, pohon Natal dengan hiasan bintang di atasnya ini menyimpan makna bahwa Natal selalu penuh berkah. Selain itu, hiasan bintang yang terpasang di pucuk pohon Natal secara khusus menyimbolkan pancaran sinar terang yang dibawa melalui kelahiran Yesus Kristus di kandang domba.

Editor :
Lusia Kus Anna